Maraknya Wartawan Dan LSM Abal-Abal "Datang Sekedar Minta Jatah Atau Uang Bensin - TRIBUNNEWS, Bukan Sekedar Berita

Minggu, 22 Maret 2020

Maraknya Wartawan Dan LSM Abal-Abal "Datang Sekedar Minta Jatah Atau Uang Bensin

Maraknya Wartawan Dan LSM Abal-Abal "Datang Sekedar Minta Jatah Atau Uang Bensin

Oleh: Aris 
Pemred/Penanggungjawab


Tribunnews.my.id-
Setelah era reformasi bergulir, media cetak (koran, tabloid, majalah) dan media online tumbuh seperti cendawan di musim penghujan. Media cetak dan media online baru itu tidak tersentral di jawabarat, tetapi juga tumbuh di berbagai pelosok di Indonesia.

Parahnya, bersamaan dengan tumbuh suburnya media massa dan mudahnya warga Indonesia menerbitkan usaha penerbitan media cetak dan media online, sumber daya manusia (SDM) justru jadi semakin parah kualitasnya. Kini , seorang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan jurnalistik atau tidak punya pengalaman dan keterampilan menulis pun bisa menjadi wartawan.

Tak jarang, kita dengan mudah menemukan seorang satpam, tukang parkir, dan makelar jual beli sepeda motor  nyambi menjadi wartawan. Mereka berpakaian necis, pakai rompi wartawan, dan emblem bertuliskan “PERS”. Di saku bajunya terselip kartu pers dan (tak jarang) kartu anggota LSM.

Di antara mereka memang ada yang mau belajar dan benar-benar menjalankan tugas jurnalistik. Artinya, mereka menghasilkan berita hasil liputan di lapangan, Namun, tidak jarang mereka hanya menggunakan kartu pers sebagai modal untuk bertemu narasumber dan memeras. Bukan berita yang dicari, tetapi uang. Ada yang dengan cara halus. tetapi tidak jarang dengan cara kasar.

Cara halus misalnya dengan minta ongkos atau uang bensin kepada narasumber (umumnya narasumber pejabat). Cara kasar, misalnya, dengan memeras dan minta uang jatah proyek. Seolah-olah wartawan memiliki hak mendapatkan jatah dari sebuah proyek.

Menghadapi wartawan yang berangasan seperti itu, bukanlah perkara mudah. Tidak jarang panitia sebuah acara seminar harus lari terbirit-birit karena dikejar wartawan yang ingin minta uang amplop yang dianggapnya sebagai haknya itu.

kepala Dinas Desa dan kepala sekolah di Jawabarat sering mengeluhkan perilaku wartawan model itu. Mereka sering pusing ketika harus berhadapan dengan wartawan yang datang bukan untuk mencari informasi, tetapi minta jatah uang. Biasanya mereka akan datang rombongan, jeprat-jepret dengan kameranya, dan setelah usai acara akan mencari ketua panitia acara. Biasanya salah satu di antara mereka akan menyodorkan daftar nama wartawan yang datang di acara itu dab seolah-olah panitia harus mengeluarkan uang untuk mereka.
(Red)

loading...

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 TRIBUNNEWS, Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved