Polda Jabar Ringkus Penjual Senpi Ilegal Konversi Dari Airsoft Gun - TRIBUNNEWS, Bukan Sekedar Berita -->

Kamis, 26 November 2020

Polda Jabar Ringkus Penjual Senpi Ilegal Konversi Dari Airsoft Gun

Polda Jabar Ringkus Penjual Senpi Ilegal Konversi Dari Airsoft Gun


TRIBUNNEWS.MY.ID|BANDUNG - Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskimsus) Polda Jawa Barat berhasil menangkap  pria berinisial DA (25) asal Kabupaten Tasikmalaya yang menjual senjata api (senpi) dan amunisi ilegal konversi dari airsoft gun.
 
Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Pol Erdi A Chaniago S.I.K., M. Si mengatakan, pengungkapan kasus ini berawal pada hari Rabu (14/10/2020) dimana personel Ditreskrimum Polda Jabar melakukan patroli cyber dan penyidikan terhadap akun toko Dados di sebuah toko online.
Setelah diselidiki Dados adalah Dias Anjasmara, warga Kampung Babakan Sindangeuleut Kab. Tasikmalaya.

DA awalnya memesan airsoft gun yang bisa dikonversi menjadi senjata api. Lalu tersangka  menjual barang tersebut melalui aplikasi jual beli daring.
 
"Tersangka sudah melakukan ini selama dua tahun, selain menjual, DA juga menerima jasa servis senjata api dan juga menerima jasa konversi airsoft gun menjadi senjata api dan dipastikan bahwa  kegiatan itu tidak memiliki izin dan dinyatakan ilegal." ujar Kabid Humas Polda Jabar.
 
Menurut Kabid Humas Polda Jabar tersangka menjual senjata api tersebut dengan kisaran harga Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. Airsoft gun yang telah dikonversi menjadi senjata api itu, bisa meletuskan peluru dengan kaliber 22 dan 38 milimeter.
 
"Dia mengganti sebagian partisi seperti pelatuk, hammer, pin, dan silinder, sehingga dapat menembakkan peluru," kata Kabid Humas.
 
Kabid Humas Polda Jabar mengungkapkan bahwa  tersangka belajar mengkonversi senjata secara otodidak. Selain itu, Polisi juga tengah melakukan pengembangan guna mencari pembeli, serta sumber berbagai barang ilegal yang dimiliki tersangka.
 
"Ini sangat beresiko apabila sudah ada di tangan orang tidak bertanggung jawab, karena menyangkut nyawa orang," kata Kabid Humas.
 
Akibat perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 9 UURI Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UURI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik, dan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara hingga maksimal hukuman penjara seumur hidup. (FT)

loading...

Read other related articles

Also read other articles

© Copyright 2020 TRIBUNNEWS, Bukan Sekedar Berita | All Right Reserved